![]() |
| Sa'i |
ibadah Sa'i merupakan salah satu rukun Haji dan umrah yang dilakukan dengan
berjalan kaki ( berlari - lari kecil )bolak - balik 7 kali dari Bukit Safa ke
Bukit Marwah dan sebaliknya. Kedua bukit yang satu sama lainnya
berjarak sekitar 405 meter. ketika melintasi
Bathnul Waadi yaitu kawasan yang terletak diantara bukit Shafa dan bukit
Marwah (saat ini ditandai dengan lampu neon berwarna hijau) para jama'ah pria
disunatkan untuk berlari-lari kecil sedangkan untuk jama'ah wanita berjalan
cepat. Ibadah Sa'i boleh dilakukan dalam keadaan tidak berwudhu dan oleh wanita yang datang Haid atau Nifas.
Tempat Sa’i
Tempat di lakukanya sa’i ialah jarak antara bukit shafa dan
Marwa,
Bukit shafa dan marwah : Shofa dan Marwah (Arab: الصفا As-Shofā ; المروة Al-Marwah) adalah dua
bukit yang terletak di Masjidil Haram di Mekah, Arab Saudi tempat melaksanakan
ibadah sa'i dalam ritual ibadah haji dan umrah.
dimana sa’I didalamnya termasuk dari rangkaian ibadah haji
dan umrah. Sa’I juga merupakan sunnah atau tradisi keluarga nenek moyang kita,
Ibrahim as, Hajar as. Dan Ismail as, disamping merupakan perintah Allah SWT dan
yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad Saw.
Praktik pelaksan sai
Dalam praktiknya sa’i
dalam haji dan umrah di lakukan dengan berlari -lari kecil
CIKAL bakal ibadah sa’i
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan
sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat
rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar
mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung
kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka
bersyukur”
(QS, Ibrahim: 37)
Ayat di atas menjadi cikal bakal sejarah terjadinya prosesi
ibadah sa’i yang kini dilakukan oleh para jamaah haji dan umroh.
Mengapa memulai sa’i dari bukit Shafa
dan diakhiri di bukit Marwah?
Kata “Shafa”
berarti “kejernihan” sedangkan “Marwah’ adalah kepuasan (berasal dari kata
rowiiya-yarwi). Ini mengisyaratkan bahwa suatu sa’i (usaha) harus dimulai dengan
niat yang jernih (shafa) sehingga akan mendapat kepuasan (marwah). Usaha yang
tidak diniatkan dengan niat jernih akan menimbulkan cara yang tidak baik, maka
meskipun tujuan suatu usaha itu tercapai, dia tidak akan mendapat kepuasan yang
hakiki dan sebenarnya. Bahkan tidak jarang, di penghujung tujuan itu, dia hanya
mendapatkan penyesalan. Kasus-kasus korupsi yang belakangan merebak adalah buah
dari niat dan cara yang tidak jernih.
Bacaan yang di sunnah kan dalam
prosesi ibadah sa’i
saat kita
berada di atas kedua bukit teresebut disunnahkan membaca, Laa ilha illallah
wahdu lasyarikah, lalu takbir “Allahu Akbar”. Sedangkan saat kita di bagian
bawah antara kedua bukit itu (terutama antara dua lampu hijau)disunnahkan
“Robbighfirham wa’fu watakarrom wa tajaawaz amma ta;lam innaka ta’lam ma na’lam
innaka anta; aazzul akram” (Ya Tuhanku ampunilah, sayangilah, maafkankan,
muliakanlah, hapuskanlah (kesalahan) yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau
mengetahui sesuatu yang tidak kami ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa
lagi Maha Mulia”.
Prosesi
bacaan seperti ini mengisyaratkan kepada kita, bahwa pada saat kita berada di
puncak, hendaklah selalu mengingat akan kebesaran Allah, bahwa Allah-lah yang
mengangkat derajat kita, bukan karena usaha kita sendiri. Sedangkan pada saat
kita sedang di posisi bawah, hendaklah kita mengingat Allah sambil memohon
ampun atas segala kesalahan, bahkan kesalahan yang samar yang tidak sadar dan
tidak kita ketahui.
Selanjutnya,
ibadah sa’I memberi pelajaran kepada kita bahwa dalam hidup iini harus ada dua
hal yang kita lakukan, yakni usaha zahir dan usaha batin. Dan setiap usaha yang
kita lakukan pastilah akan di balas oleh Allah swt, baik langsung atau tidak
langsung.
Hasil sa’i
Usaha (sa’i) yang dilakukan Siti hajar
membuahkan suatu hasil (yakni ari zamzam). Meskipun tidak langsung melalui tangan beliau, akan tetapi justru
melalui kaki Ismail yang dihentak-hendatakan ke tanah saat menangis kehausan.
Inipun menjadi ibrah (pelajaran) buat kita bahwa anak dan anggota keluarga kita
telah dijamin rezekinya masing-masing oleh Allah swt, hanya saja sarana dan
wasilah boleh jadi melalui orang tua yang berusaha. Sebaliknya orang tua yang
ushanya mendapat hasil, jangan boleh melupakan isteri-anak dan keluarganya.
Karena boleh jadi, kesuksesan orang tua adalah rezeki anak dan anggota
keluarganya. Dalam suatu hadits diriwayatkan, “Dari Anas ra berkata, Ada dua
orang bersaudara di masa Nabi saw, dan salah seorang dari mereka mendatangi
Nabi, sedang yang lainnya bekerja, lalu orang yang bekerja ini mengadukan
saudaranya kepada Nabi saw dan bersabda, “Boleh jadi kamu diberi rezeki karena
dia” (HR: Tirmidzi dengan Sanad shahih menurut yang disyaratkan Imam Muslim)
(Riyadush Shalihin Bab Yaqin dan Tawakkal hadits No.11)
Hikma yang terkandung dalam ibadah
sa’i
Pelajaran dan
hikmah yang kita dapat adalah terkait
peristiwa sebabnya sa’i, yakni ketaatan Ibrahim as melaksanakan perintah Allah
untuk meletakkan anggota keluarganya di tempat asing, serta keyakinan beliau
dan isterinya Siti Hajar akan jaminan rezeki Allah dalam melaksanakan
perintahnya.
Jika ingin tahu lebih jelas silahkan klik disni

Tidak ada komentar:
Posting Komentar