Kamis, 28 Februari 2013

Sa'i


Sa'i
Sa'i
 
ibadah Sa'i merupakan salah satu rukun Haji dan umrah yang dilakukan dengan berjalan kaki ( berlari - lari kecil )bolak - balik  7 kali dari Bukit Safa ke Bukit Marwah dan sebaliknya. Kedua bukit yang satu sama lainnya berjarak sekitar 405 meter. ketika melintasi  Bathnul Waadi yaitu kawasan yang terletak diantara bukit Shafa dan bukit Marwah (saat ini ditandai dengan lampu neon berwarna hijau) para jama'ah pria disunatkan untuk berlari-lari kecil sedangkan untuk jama'ah wanita berjalan cepat. Ibadah Sa'i boleh dilakukan dalam keadaan tidak berwudhu dan oleh wanita yang datang Haid atau Nifas.
Tempat Sa’i
Tempat di lakukanya sa’i ialah jarak antara bukit shafa dan Marwa,
Bukit shafa dan marwah : Shofa dan Marwah (Arab: الصفا As-Shofā ; المروة Al-Marwah) adalah dua bukit yang terletak di Masjidil Haram di Mekah, Arab Saudi tempat melaksanakan ibadah sa'i dalam ritual ibadah haji dan umrah.
dimana sa’I didalamnya termasuk dari rangkaian ibadah haji dan umrah. Sa’I juga merupakan sunnah atau tradisi keluarga nenek moyang kita, Ibrahim as, Hajar as. Dan Ismail as, disamping merupakan perintah Allah SWT dan yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad Saw.
Praktik pelaksan sai
Dalam praktiknya sa’i dalam haji dan umrah di lakukan dengan berlari -lari kecil
CIKAL bakal ibadah sa’i
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”
(QS, Ibrahim: 37)

Ayat di atas menjadi cikal bakal sejarah terjadinya prosesi ibadah sa’i yang kini dilakukan oleh para jamaah haji dan umroh.
Mengapa memulai sa’i dari bukit Shafa dan diakhiri di bukit Marwah?
Kata “Shafa” berarti “kejernihan” sedangkan “Marwah’ adalah kepuasan (berasal dari kata rowiiya-yarwi). Ini mengisyaratkan bahwa suatu sa’i (usaha) harus dimulai dengan niat yang jernih (shafa) sehingga akan mendapat kepuasan (marwah). Usaha yang tidak diniatkan dengan niat jernih akan menimbulkan cara yang tidak baik, maka meskipun tujuan suatu usaha itu tercapai, dia tidak akan mendapat kepuasan yang hakiki dan sebenarnya. Bahkan tidak jarang, di penghujung tujuan itu, dia hanya mendapatkan penyesalan. Kasus-kasus korupsi yang belakangan merebak adalah buah dari niat dan cara yang tidak jernih.
Bacaan yang di sunnah kan dalam prosesi ibadah sa’i
saat kita berada di atas kedua bukit teresebut disunnahkan membaca, Laa ilha illallah wahdu lasyarikah, lalu takbir “Allahu Akbar”. Sedangkan saat kita di bagian bawah antara kedua bukit itu (terutama antara dua lampu hijau)disunnahkan “Robbighfirham wa’fu watakarrom wa tajaawaz amma ta;lam innaka ta’lam ma na’lam innaka anta; aazzul akram” (Ya Tuhanku ampunilah, sayangilah, maafkankan, muliakanlah, hapuskanlah (kesalahan) yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau mengetahui sesuatu yang tidak kami ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Mulia”.

Prosesi bacaan seperti ini mengisyaratkan kepada kita, bahwa pada saat kita berada di puncak, hendaklah selalu mengingat akan kebesaran Allah, bahwa Allah-lah yang mengangkat derajat kita, bukan karena usaha kita sendiri. Sedangkan pada saat kita sedang di posisi bawah, hendaklah kita mengingat Allah sambil memohon ampun atas segala kesalahan, bahkan kesalahan yang samar yang tidak sadar dan tidak kita ketahui.
Selanjutnya, ibadah sa’I memberi pelajaran kepada kita bahwa dalam hidup iini harus ada dua hal yang kita lakukan, yakni usaha zahir dan usaha batin. Dan setiap usaha yang kita lakukan pastilah akan di balas oleh Allah swt, baik langsung atau tidak langsung.
Hasil sa’i 
 Usaha (sa’i) yang dilakukan Siti hajar membuahkan suatu hasil (yakni ari zamzam). Meskipun tidak langsung melalui tangan beliau, akan tetapi justru melalui kaki Ismail yang dihentak-hendatakan ke tanah saat menangis kehausan. Inipun menjadi ibrah (pelajaran) buat kita bahwa anak dan anggota keluarga kita telah dijamin rezekinya masing-masing oleh Allah swt, hanya saja sarana dan wasilah boleh jadi melalui orang tua yang berusaha. Sebaliknya orang tua yang ushanya mendapat hasil, jangan boleh melupakan isteri-anak dan keluarganya. Karena boleh jadi, kesuksesan orang tua adalah rezeki anak dan anggota keluarganya. Dalam suatu hadits diriwayatkan, “Dari Anas ra berkata, Ada dua orang bersaudara di masa Nabi saw, dan salah seorang dari mereka mendatangi Nabi, sedang yang lainnya bekerja, lalu orang yang bekerja ini mengadukan saudaranya kepada Nabi saw dan bersabda, “Boleh jadi kamu diberi rezeki karena dia” (HR: Tirmidzi dengan Sanad shahih menurut yang disyaratkan Imam Muslim) (Riyadush Shalihin Bab Yaqin dan Tawakkal hadits No.11)
Hikma yang terkandung dalam ibadah sa’i
Pelajaran dan hikmah yang kita dapat  adalah terkait peristiwa sebabnya sa’i, yakni ketaatan Ibrahim as melaksanakan perintah Allah untuk meletakkan anggota keluarganya di tempat asing, serta keyakinan beliau dan isterinya Siti Hajar akan jaminan rezeki Allah dalam melaksanakan perintahnya.
  
Jika ingin tahu lebih jelas silahkan klik disni 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar