Kamis, 28 Februari 2013

Cerita mengenai Sa'i


Disini saya akan menjelaskan tentang cerita mengenai sa'i penjelasannya dapat diliha di bawah ini.
berzina di Ka’bah sehingga menodai kedua batu disana (Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim). Maka diletakkanl
Di dalam sebuah kehidupan selalu ada cerita dan sejarah
Dan di bawah ini adalah cerita mengenai sa’i
Ibnu Abbas ra menceritakan bahwa Ibrahim as, ketika diperintahkan untuk haji (manasik) setan mencegatnya di tempat sa’I lalu mendahuluinya. Namun Ibrahim as pun berhasil mendahuluinya.
Riwayat lain dari Ibnu Abbas menuturkan, bahwa suatu ketika datanglah Ibrahim as bersama (istrinya) Hajar dan (anaknya) Ismail as, yang ketika itu Hajar sedang menyusui Ismail as, ke Mekah. Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di bawah pohon besar diatas zam-zam di dalam masjid, padahal di Mekah ketika itu tidak ada seorangpun. Disana tidak ada air, dan disana pulalah
Ibrahim meninggalkan mereka berdua dan membekalinya dengan tas berisi kurma dan air
Kemudian Ibrahim as, naik keatas yang diikuti oleh Ibunya Ismail (Hajar), sambil berkata, “Wahai Ibrahim..! Kemanakah engkau akan pergi dan meninggalkan kami di lembah ini yang tidak ada teman atau sesuatu apapun ?”
Hajar mengatakannya berulang-ulang. Tetapi Ibrahim tetap saja tidak bergeming dan tidak menengok saedikitpun kearah Hajar.
Maka Hajarpun berkata lagi, “Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian ?” jawab Ibrahim “Iya..”, dan ditimpali kembali oleh Hajar, “Baiklah jika demikian maka tidak ada yang perlu kita khawatirkan.”
Kemudian Hajarpun kembali, sementara Ibrahim terus naik, hingga ketika sampai di puncak gunung, ia menghadapkan wajahnya kea rah Ka’bah, padahal ia tidak melihatnya. Lalu ia berdo’a dan mengangkat kedua tangannya,
(“Yaa Tuhan kami, sesunggunya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang di hormati, Yaa Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”) Qs. Ibrahim 14:37.

Sedangkan Hajar terus menyusui Ismail dan meminum dari air peninggalan Ibrahim as, 
hingga saatnya persediaan air mereka habis, keduanya merasakan kehausan. Setelah memandangi anaknya yang sedang menggeliat, maka dengan terpaksa Hajar naik ke atas bukit yang terdekat, yaitu bukit shafa, sembari menghadapkan kearah lembah guna melihat apakah ada seseorang disana. Ternyata, Hajar tidak melihat seorangpun. Lalu ia turun dari bukit shafa, dan ketika berada di lembah seperti seorang yang sedang berusaha keras mengejar sesuatu. Lalu ia naik ke bukit Marwa untuk melihat apakah ada seseorang atau tidak, dan ternyata dari bukit Marwa ia tidak melihat seorangpun. Hal ini dilakukannya sebanyak 7 kali. Menurut Ibnu Abbas ra bahwasanya Nabi Saw pernah berkata, “Demikianlah usaha manusia diantara keduanya.”. Ketika tiº di Marwa Hajar mendengar suara, lalu ia berkata, “Diamlah”. Marwa menginginkan dirinya, kemudian diperdengarkan lagi suara itu, dan Hajarpun mendengarkannya. Lalu ia berkata, “Engkau telah memperdengarkan apabila padamu terdapat bantuan.”
Ternyata ia adalah Malaikat yang berada di tempat zam-zam, lalu mencarinya dengan sayapnya sehingga muncullah air dan Hajarpun lalu menampungnya dalam ember.


Dari Ibnu Umar ra diriwayatkan bahwasanya Nabi Saw berlari-lari kecil di batn al-masil (tempat lari Ibrahim di lembah, yang telah ditetapkan kembali belakangan ini. Dipinggir-pinggirnya ditandai dengan dua lampu hijau sebagai tanda peringatan untuk dimulai dan berakhirnya lari-lari kecil selama sa’i. Disampingnya, terdapat bekas rumah Sayyidina Abbas ibn Abdul Muthalib ra.Rumah tersebut telah mengalami perbaikan berkali-kali, hingga akhirnya dibongkar total dalam rangka perluasan Masjidil Haram yaitu pada tahun 1376 H. Dan guna memperingatinya pintu yang ada di tanda hijau tersebut dengan “Pintu Abbas ra”), ketika sedang Sa’I antara Shafa dan Marwa.
Tempat tersebut sekarang telah ditandai dengan dua tanda Hijau sepanjang tempat Sa’i.
Sedangkan dalam riwayat Jabir ra, tentang sifat Haji Nabi Saw disebutkan bahwasanya beliau keluar dari pintu menuju Shafa, dan ketika mendekati Sahafa beliau membaca (“Sesunggunya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syi’ar Allah.”) Qs. Al-Baqarah/2:158., Abda’ bima bada’a Allahu bihi (Aku akan memulai seperti yang dimulai oleh Allah).

Maka beliaupun memulainya dari Shafa dan naik ke atas bukit tersebut sehingga melihat Ka’bah. Kemudian menghadap Kiblat, meng-Esakan Allah, bertakbir, dan membaca, “Laa ilaaha illallah wahdahu la syarikalah, lahu al-mulk wa lahu al-Hamdu wahuwa ‘ala kulli syai’in Qadir. La ilaha illallah wahdah, anjaza wa’dah, wa nashara ‘abdah, wa hazama al-ahzab wahdah”, lalu diselingi dengan do’a. Nabi mengucapkan lafadz di atas sebanyak tiga kali. Kemudian beliau turun menuju Marwa, dan ketika kakinya menginjakkan lembah, beliau berlari-lari kecil hingga permulaan naik ke bukit Marwa. Di Marwa tersebut beliau mengerjakan sebagaimana yang dilakukannya di Shafa.

Sebab turunnya ayat (“Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syi’ar Allah”) ialah bahwa menurut orang-orang Ahlu al-Kitab, Isaf dan Na’ilah telahah patung Isaf di bukit Shafa dan Na’liah di bukit Marwa agar manusia dapat mengambil pelajaran darinya. Namun. Setelah lama kelamaan. Ternyata keduanya malah dijadikan sesembahan. Dan orang-orang Jahiliyah berSa’I diantara keduanya. Kemudian setelah datang Islam , kedua patung tersebut dimusnahkan, lalu Nabi berkata, “Demikianlah yang dilakukan orang-orang Jahiliyah demi berhala-berhala mereka.”

Setelah itu turunlah ayat (“Sesungguhnya Shafa dan marwa adalah sebagian dari syi’ar Allah”)
Dalam bahasa Arab, Shafa disebut sebagai mudzakkar (maskulin/kata ganti untuk laki2) karena berhala yang ada disana ialah berhala laki-laki.
Sedangkan Marwa, disebut sebagai mu’annats (feminine/kata ganti untuk perempuan) karena berhala yang ada disana merupakan berhala perempuan.

Untuk lebih jelasnya silahkan KLIK DISINI

Sa'i


Sa'i
Sa'i
 
ibadah Sa'i merupakan salah satu rukun Haji dan umrah yang dilakukan dengan berjalan kaki ( berlari - lari kecil )bolak - balik  7 kali dari Bukit Safa ke Bukit Marwah dan sebaliknya. Kedua bukit yang satu sama lainnya berjarak sekitar 405 meter. ketika melintasi  Bathnul Waadi yaitu kawasan yang terletak diantara bukit Shafa dan bukit Marwah (saat ini ditandai dengan lampu neon berwarna hijau) para jama'ah pria disunatkan untuk berlari-lari kecil sedangkan untuk jama'ah wanita berjalan cepat. Ibadah Sa'i boleh dilakukan dalam keadaan tidak berwudhu dan oleh wanita yang datang Haid atau Nifas.
Tempat Sa’i
Tempat di lakukanya sa’i ialah jarak antara bukit shafa dan Marwa,
Bukit shafa dan marwah : Shofa dan Marwah (Arab: الصفا As-Shofā ; المروة Al-Marwah) adalah dua bukit yang terletak di Masjidil Haram di Mekah, Arab Saudi tempat melaksanakan ibadah sa'i dalam ritual ibadah haji dan umrah.
dimana sa’I didalamnya termasuk dari rangkaian ibadah haji dan umrah. Sa’I juga merupakan sunnah atau tradisi keluarga nenek moyang kita, Ibrahim as, Hajar as. Dan Ismail as, disamping merupakan perintah Allah SWT dan yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad Saw.
Praktik pelaksan sai
Dalam praktiknya sa’i dalam haji dan umrah di lakukan dengan berlari -lari kecil
CIKAL bakal ibadah sa’i
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”
(QS, Ibrahim: 37)

Ayat di atas menjadi cikal bakal sejarah terjadinya prosesi ibadah sa’i yang kini dilakukan oleh para jamaah haji dan umroh.
Mengapa memulai sa’i dari bukit Shafa dan diakhiri di bukit Marwah?
Kata “Shafa” berarti “kejernihan” sedangkan “Marwah’ adalah kepuasan (berasal dari kata rowiiya-yarwi). Ini mengisyaratkan bahwa suatu sa’i (usaha) harus dimulai dengan niat yang jernih (shafa) sehingga akan mendapat kepuasan (marwah). Usaha yang tidak diniatkan dengan niat jernih akan menimbulkan cara yang tidak baik, maka meskipun tujuan suatu usaha itu tercapai, dia tidak akan mendapat kepuasan yang hakiki dan sebenarnya. Bahkan tidak jarang, di penghujung tujuan itu, dia hanya mendapatkan penyesalan. Kasus-kasus korupsi yang belakangan merebak adalah buah dari niat dan cara yang tidak jernih.
Bacaan yang di sunnah kan dalam prosesi ibadah sa’i
saat kita berada di atas kedua bukit teresebut disunnahkan membaca, Laa ilha illallah wahdu lasyarikah, lalu takbir “Allahu Akbar”. Sedangkan saat kita di bagian bawah antara kedua bukit itu (terutama antara dua lampu hijau)disunnahkan “Robbighfirham wa’fu watakarrom wa tajaawaz amma ta;lam innaka ta’lam ma na’lam innaka anta; aazzul akram” (Ya Tuhanku ampunilah, sayangilah, maafkankan, muliakanlah, hapuskanlah (kesalahan) yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau mengetahui sesuatu yang tidak kami ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Mulia”.

Prosesi bacaan seperti ini mengisyaratkan kepada kita, bahwa pada saat kita berada di puncak, hendaklah selalu mengingat akan kebesaran Allah, bahwa Allah-lah yang mengangkat derajat kita, bukan karena usaha kita sendiri. Sedangkan pada saat kita sedang di posisi bawah, hendaklah kita mengingat Allah sambil memohon ampun atas segala kesalahan, bahkan kesalahan yang samar yang tidak sadar dan tidak kita ketahui.
Selanjutnya, ibadah sa’I memberi pelajaran kepada kita bahwa dalam hidup iini harus ada dua hal yang kita lakukan, yakni usaha zahir dan usaha batin. Dan setiap usaha yang kita lakukan pastilah akan di balas oleh Allah swt, baik langsung atau tidak langsung.
Hasil sa’i 
 Usaha (sa’i) yang dilakukan Siti hajar membuahkan suatu hasil (yakni ari zamzam). Meskipun tidak langsung melalui tangan beliau, akan tetapi justru melalui kaki Ismail yang dihentak-hendatakan ke tanah saat menangis kehausan. Inipun menjadi ibrah (pelajaran) buat kita bahwa anak dan anggota keluarga kita telah dijamin rezekinya masing-masing oleh Allah swt, hanya saja sarana dan wasilah boleh jadi melalui orang tua yang berusaha. Sebaliknya orang tua yang ushanya mendapat hasil, jangan boleh melupakan isteri-anak dan keluarganya. Karena boleh jadi, kesuksesan orang tua adalah rezeki anak dan anggota keluarganya. Dalam suatu hadits diriwayatkan, “Dari Anas ra berkata, Ada dua orang bersaudara di masa Nabi saw, dan salah seorang dari mereka mendatangi Nabi, sedang yang lainnya bekerja, lalu orang yang bekerja ini mengadukan saudaranya kepada Nabi saw dan bersabda, “Boleh jadi kamu diberi rezeki karena dia” (HR: Tirmidzi dengan Sanad shahih menurut yang disyaratkan Imam Muslim) (Riyadush Shalihin Bab Yaqin dan Tawakkal hadits No.11)
Hikma yang terkandung dalam ibadah sa’i
Pelajaran dan hikmah yang kita dapat  adalah terkait peristiwa sebabnya sa’i, yakni ketaatan Ibrahim as melaksanakan perintah Allah untuk meletakkan anggota keluarganya di tempat asing, serta keyakinan beliau dan isterinya Siti Hajar akan jaminan rezeki Allah dalam melaksanakan perintahnya.
  
Jika ingin tahu lebih jelas silahkan klik disni 

Senin, 25 Februari 2013

HIJRIAH




http://haji-itu-islam.blogspot.com/
Kalender Hijriah

 Kalender Hijriyah atau Kalender Islam (bahasa Arab: التقويم الهجري; at-taqwim al-hijri), adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas Islam, Kalender Hijriyah juga digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran Matahari.
Penentuan dimulainya sebuah hari/tanggal pada Kalender Hijriyah berbeda dengan pada Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari/tanggal dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari/tanggal dimulai ketika terbenamnya Matahari di tempat tersebut.
Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari).Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.

Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan Matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan Matahari (perihelion). Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari Matahari (aphelion). Dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 - 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi dan Matahari).

Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal.
Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada jaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah. Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29-30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman Allah Subhana Wata'ala: ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS : At Taubah(9):36).
 Sebelumnya, orang Arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad SAW telah menggunakan bulan-bulan dalam kalender hijriyah ini. Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa, tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah SAW adalah pada tahun gajah.Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur di zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka adalah Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhan bin Ubaidillah r.a.
Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah saw.
 Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad saw menjadi Rasul. Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib (Madinah). Maka semuanya setuju dengan usulan Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah saw. Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku pada masa itu di wilayah Arab.
Mau tau nama bulan di penangalan hijriah
Dan untuk lebih jelasnya klik disini 

 Untuk lebih jelasnya silahkan klik disini 

Selasa, 19 Februari 2013

DI mana prosesi Haji



Di mana proses haji dilakukan ?
Di kota inilah berdiri pusat ibadah umat Islam sedunia, Ka'bah, yang berada di pusat Masjidil Haram. Dalam ritual haji, Makkah menjadi tempat pembuka dan penutup ibadah ini ketika jamaah diwajibkan melaksanakan niat dan thawaf haji
Makkah Al Mukaromah
Di mana proses haji
Di kota inilah berdiri pusat ibadah umat Islam sedunia, Ka'bah, yang berada di pusat Masjidil Haram. Dalam ritual haji, Makkah menjadi tempat pembuka dan penutup ibadah ini ketika jamaah diwajibkan melaksanakan niat dan thawaf haji.
Arafah
Kota di sebelah timur Makkah ini juga dikenal sebagai tempat pusatnya haji, yiatu tempat wukuf dilaksanakan, yakni pada tanggal 9 Zulhijah tiap tahunnya. Daerah berbentuk padang luas ini adalah tempat berkumpulnya sekitar dua juta jamaah haji dari seluruh dunia. Di luar musim haji, daerah ini tidak dipakai.
Muzdalifah

Tempat di dekat Mina dan Arafah, dikenal sebagai tempat jamaah haji melakukan Mabit (Bermalam) dan mengumpulkan bebatuan untuk melaksanakan ibadah jumrah di Mina.
Rute yang dilalui oleh jamaah dalam ibadah haji
Mina
Tempat berdirinya tugu jumrah, yaitu tempat pelaksanaan kegiatan melontarkan batu ke tugu jumrah sebagai simbolisasi tindakan nabi Ibrahim ketika mengusir setan. Dimasing-maising tempat itu berdiri tugu yang digunakan untuk pelaksanaan: Jumrah Aqabah, Jumrah Ula, dan Jumrah Wustha. Di tempat ini jamaah juga diwajibkan untuk menginap satu malam.
Madinah
Adalah kota suci kedua umat Islam. Di tempat inilah panutan umat Islam, Nabi Muhammad SAW dimakamkan di Masjid Nabawi. Tempat ini sebenarnya tidak masuk ke dalam ritual ibadah haji, namun jamaah haji dari seluruh dunia biasanya menyempatkan diri berkunjung ke kota yang letaknya kurang lebih 330 km (450 km melalui transportasi darat) utara Makkah ini untuk berziarah dan melaksanakan salat di masjidnya Nabi. Lihat foto-foto keadaan dan kegiatan dalam masjid ini.


Apa yang kita dapatkan setelah melakukan ibadah haji.?
Gelar haji
Gelar Haji adalah sebutan atau gelar untuk pria muslim yang telah berhasil menjalankan ibadah haji. Umum digunakan sebagai tambahan di depan nama dan sering disingkat dengan "H". Dalam hal ini biasanya para Haji membubuhkan gelarnya dianggap oleh mayoritas masyarakat sebagai tauladan maupun contoh di daerah mereka. Bisa dikatakan sebagai guru atau panutan untuk memberikan contoh sikap secara lahiriah dan batiniah dalam segi Islam sehari-hari.

Untuk lebih jelasnya silahkan klik disini 

Urutan ibadah haji


Urutan ibadah haji berdasarkan waktu.?
Disini saya akan menjelaskan mengenai urutan ibadah haji berikut penjelasannya di bawah ini  :
Berikut adalah kegiatan utama dalam ibadah haji berdasarkan urutan waktu.
    Sebelum 8 Zulhijah, 
umat Islam dari seluruh dunia mulai berbondong untuk melaksanakan Tawaf Haji di Masjid Al Haram, Makkah.
   8 Zulhijah,
 jamaah haji bermalam di Mina. Pada pagi 8 Zulhijah, semua umat Islam memakai pakaian Ihram (dua lembar kain tanpa jahitan sebagai pakaian haji), kemudian berniat haji, dan membaca bacaan Talbiyah. Jamaah kemudian berangkat menuju Mina, sehingga malam harinya semua jamaah haji harus bermalam di Mina.
   9 Zulhijah,
 pagi harinya semua jamaah haji pergi ke Arafah. Kemudian jamaah melaksanakan ibadah Wukuf, yaitu berdiam diri dan berdoa di padang luas ini hingga Maghrib datang. Ketika malam datang, jamaah segera menuju dan bermalam Muzdalifah.
   10 Zulhijah, 
setelah pagi di Muzdalifah, jamaah segera menuju Mina untuk melaksanakan ibadah Jumrah Aqabah, yaitu melempar batu sebanyak tujuh kali ke tugu pertama sebagai simbolisasi mengusir setan. Setelah mencukur rambut atau sebagian rambut, jamaah bisa Tawaf Haji (menyelesaikan Haji), atau bermalam di Mina dan melaksanakan jumrah sambungan (Ula dan Wustha).
   11 Zulhijah,
 melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.
  12 Zulhijah, 
melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.
  Sebelum pulang ke negara masing-masing, jamaah melaksanakan Thawaf Wada' (thawaf     perpisahan).
jika anda ingin tau lebih banyak tentang haji Klikdi sini