Kamis, 28 Februari 2013

Cerita mengenai Sa'i


Disini saya akan menjelaskan tentang cerita mengenai sa'i penjelasannya dapat diliha di bawah ini.
berzina di Ka’bah sehingga menodai kedua batu disana (Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim). Maka diletakkanl
Di dalam sebuah kehidupan selalu ada cerita dan sejarah
Dan di bawah ini adalah cerita mengenai sa’i
Ibnu Abbas ra menceritakan bahwa Ibrahim as, ketika diperintahkan untuk haji (manasik) setan mencegatnya di tempat sa’I lalu mendahuluinya. Namun Ibrahim as pun berhasil mendahuluinya.
Riwayat lain dari Ibnu Abbas menuturkan, bahwa suatu ketika datanglah Ibrahim as bersama (istrinya) Hajar dan (anaknya) Ismail as, yang ketika itu Hajar sedang menyusui Ismail as, ke Mekah. Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di bawah pohon besar diatas zam-zam di dalam masjid, padahal di Mekah ketika itu tidak ada seorangpun. Disana tidak ada air, dan disana pulalah
Ibrahim meninggalkan mereka berdua dan membekalinya dengan tas berisi kurma dan air
Kemudian Ibrahim as, naik keatas yang diikuti oleh Ibunya Ismail (Hajar), sambil berkata, “Wahai Ibrahim..! Kemanakah engkau akan pergi dan meninggalkan kami di lembah ini yang tidak ada teman atau sesuatu apapun ?”
Hajar mengatakannya berulang-ulang. Tetapi Ibrahim tetap saja tidak bergeming dan tidak menengok saedikitpun kearah Hajar.
Maka Hajarpun berkata lagi, “Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian ?” jawab Ibrahim “Iya..”, dan ditimpali kembali oleh Hajar, “Baiklah jika demikian maka tidak ada yang perlu kita khawatirkan.”
Kemudian Hajarpun kembali, sementara Ibrahim terus naik, hingga ketika sampai di puncak gunung, ia menghadapkan wajahnya kea rah Ka’bah, padahal ia tidak melihatnya. Lalu ia berdo’a dan mengangkat kedua tangannya,
(“Yaa Tuhan kami, sesunggunya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang di hormati, Yaa Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”) Qs. Ibrahim 14:37.

Sedangkan Hajar terus menyusui Ismail dan meminum dari air peninggalan Ibrahim as, 
hingga saatnya persediaan air mereka habis, keduanya merasakan kehausan. Setelah memandangi anaknya yang sedang menggeliat, maka dengan terpaksa Hajar naik ke atas bukit yang terdekat, yaitu bukit shafa, sembari menghadapkan kearah lembah guna melihat apakah ada seseorang disana. Ternyata, Hajar tidak melihat seorangpun. Lalu ia turun dari bukit shafa, dan ketika berada di lembah seperti seorang yang sedang berusaha keras mengejar sesuatu. Lalu ia naik ke bukit Marwa untuk melihat apakah ada seseorang atau tidak, dan ternyata dari bukit Marwa ia tidak melihat seorangpun. Hal ini dilakukannya sebanyak 7 kali. Menurut Ibnu Abbas ra bahwasanya Nabi Saw pernah berkata, “Demikianlah usaha manusia diantara keduanya.”. Ketika tiº di Marwa Hajar mendengar suara, lalu ia berkata, “Diamlah”. Marwa menginginkan dirinya, kemudian diperdengarkan lagi suara itu, dan Hajarpun mendengarkannya. Lalu ia berkata, “Engkau telah memperdengarkan apabila padamu terdapat bantuan.”
Ternyata ia adalah Malaikat yang berada di tempat zam-zam, lalu mencarinya dengan sayapnya sehingga muncullah air dan Hajarpun lalu menampungnya dalam ember.


Dari Ibnu Umar ra diriwayatkan bahwasanya Nabi Saw berlari-lari kecil di batn al-masil (tempat lari Ibrahim di lembah, yang telah ditetapkan kembali belakangan ini. Dipinggir-pinggirnya ditandai dengan dua lampu hijau sebagai tanda peringatan untuk dimulai dan berakhirnya lari-lari kecil selama sa’i. Disampingnya, terdapat bekas rumah Sayyidina Abbas ibn Abdul Muthalib ra.Rumah tersebut telah mengalami perbaikan berkali-kali, hingga akhirnya dibongkar total dalam rangka perluasan Masjidil Haram yaitu pada tahun 1376 H. Dan guna memperingatinya pintu yang ada di tanda hijau tersebut dengan “Pintu Abbas ra”), ketika sedang Sa’I antara Shafa dan Marwa.
Tempat tersebut sekarang telah ditandai dengan dua tanda Hijau sepanjang tempat Sa’i.
Sedangkan dalam riwayat Jabir ra, tentang sifat Haji Nabi Saw disebutkan bahwasanya beliau keluar dari pintu menuju Shafa, dan ketika mendekati Sahafa beliau membaca (“Sesunggunya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syi’ar Allah.”) Qs. Al-Baqarah/2:158., Abda’ bima bada’a Allahu bihi (Aku akan memulai seperti yang dimulai oleh Allah).

Maka beliaupun memulainya dari Shafa dan naik ke atas bukit tersebut sehingga melihat Ka’bah. Kemudian menghadap Kiblat, meng-Esakan Allah, bertakbir, dan membaca, “Laa ilaaha illallah wahdahu la syarikalah, lahu al-mulk wa lahu al-Hamdu wahuwa ‘ala kulli syai’in Qadir. La ilaha illallah wahdah, anjaza wa’dah, wa nashara ‘abdah, wa hazama al-ahzab wahdah”, lalu diselingi dengan do’a. Nabi mengucapkan lafadz di atas sebanyak tiga kali. Kemudian beliau turun menuju Marwa, dan ketika kakinya menginjakkan lembah, beliau berlari-lari kecil hingga permulaan naik ke bukit Marwa. Di Marwa tersebut beliau mengerjakan sebagaimana yang dilakukannya di Shafa.

Sebab turunnya ayat (“Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syi’ar Allah”) ialah bahwa menurut orang-orang Ahlu al-Kitab, Isaf dan Na’ilah telahah patung Isaf di bukit Shafa dan Na’liah di bukit Marwa agar manusia dapat mengambil pelajaran darinya. Namun. Setelah lama kelamaan. Ternyata keduanya malah dijadikan sesembahan. Dan orang-orang Jahiliyah berSa’I diantara keduanya. Kemudian setelah datang Islam , kedua patung tersebut dimusnahkan, lalu Nabi berkata, “Demikianlah yang dilakukan orang-orang Jahiliyah demi berhala-berhala mereka.”

Setelah itu turunlah ayat (“Sesungguhnya Shafa dan marwa adalah sebagian dari syi’ar Allah”)
Dalam bahasa Arab, Shafa disebut sebagai mudzakkar (maskulin/kata ganti untuk laki2) karena berhala yang ada disana ialah berhala laki-laki.
Sedangkan Marwa, disebut sebagai mu’annats (feminine/kata ganti untuk perempuan) karena berhala yang ada disana merupakan berhala perempuan.

Untuk lebih jelasnya silahkan KLIK DISINI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar